Selasa, 27 September 2011

Kampus miskin sarana dan prasarana.


Kampus miskin sarana dan prasarana.

Apalah kata orang jika tukang masak hanya bisa membuat resep tanpa pernah praktek membuat menu makanan, apalah kata orang jika seorang teknisi hanya pandai menggambar kerangka dan denah mesin tanpa pernah membuka dan memperbaiki mesin yang rusak? Ya tentunya mereka belum bisa dikatakan mahir/profesional karena pandai sekedar retorika semata.
Demikianlah gambaran umum pendidikan kita saat ini. Pendidikan kita masih dalam tataran teoritik tanpa pernah disuguhkan dalam penerapan. Padahal kalau kita tinjau kembali tujuan pendidikan itu sendiri adalah untuk membekali siswa untuk terampil. Pendidikan menjadi “problem solving” terhadap segala permasalahan yang ada didalam dirinya. Contoh seorang kuli bangunan tidak bisa menjawab berapa bajet yang diperlukan untuk membuat sebuah rumah gara-gara dia tidak bisa menghitung volume dan nilai. Mereka hanya akan bisa jika sudah berpengalaman sekian tahun lamanya. Lalu dimana fungsi pendidikan selama ini terutama ilmu hitungnya. Mereka hanya bisa karena praktek lapangan dan pembiasaan setelah mengalami sendiri didunia kerja.
Seharusnya jangan pernah ada lagi pendidikan TIK Komputer yang menilai kemampuan siswa lewat teori. Karena tuntutan siswa adalah ketrampilan mengoperasikan bukan berpendapat. Sehingga jangan disalahkan jika mereka hanya pandai dalam ulangan harian tapi nihil dalam praktek. Demikian juga dengan dengan ilmu-ilmu lainnya.
Dari cerita tadi bukan menjadi harapan bersama suatu saat nanti, generasi penerus kita hanya pandai berpendapat tanpa dibarengi ketrampilan yang mumpuni. Lebih parah lagi kalu jadi pemimpin bangsa yang hanya pandai menjawab dan “ngeles” terhadap segala permasalahan tanpa adanya solusi kongkrit.
Simaklah prestasi buruk pendidikan kita. Tahun 1997 kwalitas pendidikan Indonesia berada pada tingkat 39 dari 49 negara yang disurvei. Tahun 1999, Indonesia menempati urutan 46 dari 47 negara. Dan tahun 2007 kita berada pada peringkat 53 dari 55 negara yang disurvei. Dan masih banyak survei-survei lainya yang hasilnya tidak jauh dari gambaran diatas. Disini boleh kita katakan bahwa pendidikan di negeri ini buruk kalau tidak mau dikatakan gagal.
Masih berbicara fakta. Masih banyak kurangnya sarana prasana yang dimiliki sekolah-sekolah kita dibandingkan dengan negara-negara tetangga. Perbaikan vasilitas harus segera dilaksanakan. Masih banyak sekolah-sekolah kita didaerah yang tidak memenuhi standar sarana layak. Perpustakaan yang miskin koleksi buku-buku. Prosesi pembelajaran yang langka terhadap pengunaan media pembelajaran serta orientasi pendidikan “clasikall” dan terbentur dengan jam pembelajaran yang penuh dengan keterikatan administrasi.
Perbaikan pada level perguruan tinggi juga perlu dilakukan. Potret buruk ketika sebuah perguruan tinggi hanya punya lokal saja yang tidak dilengkapi laboratorium dan sarana kampus yang memadai. PT atau univeritas seharusnya menjadi kawah Candradimuka bagi lulusannya. Kampus identik dengan sekumpulan inteltual muda yang gemar mengunjungi laboratorium, sarana praktek, workshop, perpustakaan-perpustakaan dan gemar meng-up date arus informasi. Mahasiswa yang berbekal referensi buku-buku yang banyak dan berkwalitas serta melek teknologi. Bukan sebaliknya, mahasiswa yang jarang berangkat kuliah, tidak cukup buku serta “jadul” dalam teknologi  tetapi tetap saja lulus.
Kegagalan ini tidak lepas dari pengaruh kebijakan pemerintah kita. Pemerintah melalui dinas pendidikan seharusnya meninjau kembali arah kebijakan dan implementasi pelaksanaan dilapangan. Penyakit ini jangan sampai dibiarkan menjadi penyakit yang kronis sehingga susah untuk disembuhkan. Jangan sampai masyarakat menjadi apatis terhadap pendidikan kita. Sikap apatis itu sesungguhnya sudah didepan mata kita. Banyak masyarakat miskin kita berujar untuk apa kita sekolah tinggi kalau hasilnya juga tidak ada beda dengan yang tidak sekolah. Wong akhirnya juga nganggur kalau tidak dilengkapi uang pelicin?
Sementara untuk sebagian saudara kita yang berkecukupan lebih berbangga jika anaknya sekolah diluar negeri. Mereka punya keyakinan pendidikan diluar jauh lebih “fear” and dan menjanjikan dibandikan di negeri sendiri. Sudah tak terhitung berapa banyak ilmuwan kita yang mutasi keluar. Dan sebaliknya kita lebih suka memakai orang asing dibandingkan ilmuwan pribumi.
Adalah menjadi tugas kita bersama untuk memperbaiki kondisi ini. Pemerintah yang memegang setir kendali harus bekerja keras dan jangan menunggung biduk negeri ini runtuh. Andaikan saja sang raja besar Kerajaan Sriwijaya masih bisa melihat tentu akan mengurut dada. Dan andaikan Raja Ken Arok dan patih gajah mada sang pemersatu Nusantara tau negerinya menjadi seperti ini, pastilah mereka kecewa. Begitu pula sang dwitunggal kita, sukarno-Hatta tentunya tak akan terima.
Dalam memperingati HUT PGRI ke-65 ini, penulis beharap kaum pendidik bangsa bangkit dan berdirilah. Jangan kau kecewakan mereka yang telah membesarkan nama nusantara.   Semua itu demi kemajuan pendidikan dan anak bangsa.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar