Kampus miskin
sarana dan prasarana.
Apalah kata orang jika tukang masak
hanya bisa membuat resep tanpa pernah praktek membuat menu makanan, apalah kata
orang jika seorang teknisi hanya pandai menggambar kerangka dan denah mesin
tanpa pernah membuka dan memperbaiki mesin yang rusak? Ya tentunya mereka belum
bisa dikatakan mahir/profesional karena pandai sekedar retorika semata.
Demikianlah gambaran umum
pendidikan kita saat ini. Pendidikan kita masih dalam tataran teoritik tanpa
pernah disuguhkan dalam penerapan. Padahal kalau kita tinjau kembali tujuan
pendidikan itu sendiri adalah untuk membekali siswa untuk terampil. Pendidikan
menjadi “problem solving” terhadap segala permasalahan yang ada didalam
dirinya. Contoh seorang kuli bangunan tidak bisa menjawab berapa bajet yang
diperlukan untuk membuat sebuah rumah gara-gara dia tidak bisa menghitung
volume dan nilai. Mereka hanya akan bisa jika sudah berpengalaman sekian tahun
lamanya. Lalu dimana fungsi pendidikan selama ini terutama ilmu hitungnya.
Mereka hanya bisa karena praktek lapangan dan pembiasaan setelah mengalami
sendiri didunia kerja.
Seharusnya jangan pernah ada lagi
pendidikan TIK Komputer yang menilai kemampuan siswa lewat teori. Karena
tuntutan siswa adalah ketrampilan mengoperasikan bukan berpendapat. Sehingga
jangan disalahkan jika mereka hanya pandai dalam ulangan harian tapi nihil
dalam praktek. Demikian juga dengan dengan ilmu-ilmu lainnya.
Dari cerita tadi bukan menjadi
harapan bersama suatu saat nanti, generasi penerus kita hanya pandai
berpendapat tanpa dibarengi ketrampilan yang mumpuni. Lebih parah lagi kalu
jadi pemimpin bangsa yang hanya pandai menjawab dan “ngeles” terhadap segala
permasalahan tanpa adanya solusi kongkrit.
Simaklah prestasi buruk pendidikan
kita. Tahun 1997 kwalitas pendidikan Indonesia berada pada tingkat 39 dari 49
negara yang disurvei. Tahun 1999, Indonesia menempati urutan 46 dari 47 negara.
Dan tahun 2007 kita berada pada peringkat 53 dari 55 negara yang disurvei. Dan
masih banyak survei-survei lainya yang hasilnya tidak jauh dari gambaran diatas.
Disini boleh kita katakan bahwa pendidikan di negeri ini buruk kalau tidak mau
dikatakan gagal.
Masih berbicara fakta. Masih banyak
kurangnya sarana prasana yang dimiliki sekolah-sekolah kita dibandingkan dengan
negara-negara tetangga. Perbaikan vasilitas harus segera dilaksanakan. Masih
banyak sekolah-sekolah kita didaerah yang tidak memenuhi standar sarana layak.
Perpustakaan yang miskin koleksi buku-buku. Prosesi pembelajaran yang langka
terhadap pengunaan media pembelajaran serta orientasi pendidikan “clasikall”
dan terbentur dengan jam pembelajaran yang penuh dengan keterikatan
administrasi.
Perbaikan pada level perguruan
tinggi juga perlu dilakukan. Potret buruk ketika sebuah perguruan tinggi hanya
punya lokal saja yang tidak dilengkapi laboratorium dan sarana kampus yang memadai.
PT atau univeritas seharusnya menjadi kawah Candradimuka bagi lulusannya.
Kampus identik dengan sekumpulan inteltual muda yang gemar mengunjungi laboratorium,
sarana praktek, workshop, perpustakaan-perpustakaan dan gemar meng-up date arus
informasi. Mahasiswa yang berbekal referensi buku-buku yang banyak dan
berkwalitas serta melek teknologi. Bukan sebaliknya, mahasiswa yang jarang berangkat
kuliah, tidak cukup buku serta “jadul” dalam teknologi tetapi tetap saja lulus.
Kegagalan ini tidak lepas dari
pengaruh kebijakan pemerintah kita. Pemerintah melalui dinas pendidikan seharusnya
meninjau kembali arah kebijakan dan implementasi pelaksanaan dilapangan. Penyakit
ini jangan sampai dibiarkan menjadi penyakit yang kronis sehingga susah untuk
disembuhkan. Jangan sampai masyarakat menjadi apatis terhadap pendidikan kita.
Sikap apatis itu sesungguhnya sudah didepan mata kita. Banyak masyarakat miskin
kita berujar untuk apa kita sekolah tinggi kalau hasilnya juga tidak ada beda
dengan yang tidak sekolah. Wong akhirnya juga nganggur kalau tidak dilengkapi
uang pelicin?
Sementara untuk sebagian saudara
kita yang berkecukupan lebih berbangga jika anaknya sekolah diluar negeri.
Mereka punya keyakinan pendidikan diluar jauh lebih “fear” and dan menjanjikan
dibandikan di negeri sendiri. Sudah tak terhitung berapa banyak ilmuwan kita
yang mutasi keluar. Dan sebaliknya kita lebih suka memakai orang asing
dibandingkan ilmuwan pribumi.
Adalah menjadi tugas kita bersama
untuk memperbaiki kondisi ini. Pemerintah yang memegang setir kendali harus
bekerja keras dan jangan menunggung biduk negeri ini runtuh. Andaikan saja sang
raja besar Kerajaan Sriwijaya masih bisa melihat tentu akan mengurut dada. Dan
andaikan Raja Ken Arok dan patih gajah mada sang pemersatu Nusantara tau
negerinya menjadi seperti ini, pastilah mereka kecewa. Begitu pula sang
dwitunggal kita, sukarno-Hatta tentunya tak akan terima.
Dalam memperingati HUT PGRI ke-65
ini, penulis beharap kaum pendidik bangsa bangkit dan berdirilah. Jangan kau
kecewakan mereka yang telah membesarkan nama nusantara. Semua itu demi kemajuan pendidikan dan anak
bangsa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar